Cacing dalam Sarden

By:
Categories: Uncategorized
No Comments

oleh wita nurul aini

Sebanyak 27 merek produk ikan makarel dalam kaleng ditemukan mengandung cacing, 16 di antaranya merupakan makanan kaleng impor yang berasal dari China dan sisanya merupakan produk dalam negeri. Menurut Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilanto Perbowo hal tersebut diperkirakan terjadi karena fakor musiman yang menyebabkan parasit   tersebut hidup dalam inangnya yaitu ikan makarel (liputan6.com, 2018).

 

Banyaknya makarel yang mengandung cacing ini kemungkinan karena ikan tersebut dalam ekosistemnya hidup secara berkelompok, sehingga jika satu terkena parasit, maka ikan makarel lain juga terkena. Walaupun masih dipelajari penyebab yang sebenarnya, seluruh produk yang ditemukan mengandung cacing dihentikan produksinya ataupun impornya untuk sementara.

 

Menanggapi hal tersebut Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek mengatakan bahwa, “Cacing pada ikan makarel kaleng tidak berbahaya selama diolah dengan benar (dimasak lagi)  dan justru mengandung protein.” (Kompas.com , 2018). Selain itu, menurutnya cacing tersebut hanya akan berkembang biak jika lingkungan di perut kita cocok dengan siklus hidupnya, sehingga jika tidak cocok, maka cacing tersebut tidak akan berkembang biak.

 

Berdasarkan hasil telusur BPOM, ikan makarel yang diduga mengandung parasit umumnya diperoleh dari kawasan perairan Tiongkok. Menurut kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito mengatakan bahwa, “Cacing yang telah mati tersebut mugkin memiliki efek lain yang dikaitkan dengan alergi pada konsumen.”

Di sisi lain, tidak ada pihak yang merasa bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Ketua Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (APIKI) Ady Surya, mengaku telah melakukan semua SOP secara ketat dan insiden ini semata-mata terjadi karena faktor seasonal, sehingga penarikan produk dari pasaran cukup pada batch tertentu saja yang telah terbukti diduga teridentifikasiasi cacing parasit dan tidak harus semuanya (Merdeka.com, 2018). Masyarakat sebagai konsumen tetap khawatir dan was-was karena makanan kaleng tersebut bukan makanan yang jarang dikonsumsi.  Namun, saat ini makanan yang menjadi pilihan karena mudah tersebut terindikasi mengandung cacing jenis Anisakis simplex. Menurut peneliti LIPI jenis cacing tersebut memang memiliki kesamaan tempat hidup  dengan ikan makarel yang umumnya dijumpai di Samudera Pasifik. Namun, jika cacing tersebut ditemukan pada produk ikan kaleng, menandakan bahwa daging ikan di dalamnya masih mentah, sehingga konsumen harus mengolah kembali bahan makanan untuk mematikan parasitnya (Kompas.com, 2018).

 

Di Maroko, infeksi oleh anisakis spp dari makarel kebanyakan berasal dari ikan perairan Atlantik dibandingkan dengan Perairan Mediteranian (Abattouy et al, 2014). Mengonsumsi ikan yang terinfeksi atau tidak dimasak dengan benar dapat menyebabkan  penyakit gastroenterik dan alergi pada manusia. Namun, pemasakan ataupun pembekuan cacing Anisakis tidak akan menghancurkan potensi alergenik dari parasite tersebut (Pekmezci, 2014). Sehingga keberadaan anisakis simplex dalam produk makanan laut tetap memiliki risiko kesehatan pada konsumen. Jika cacing anisakis simplex hidup dalam tubuh manusia, dapat menyebabkan penyakit human anisakiasis (anisakiasis pada manusia) dengan gejala sakit di bagian perut, mual, diare dan menyebabkan pembentukan granuloma di saluran pencernaan.  Jika larva tidak dihilangkan, sehingga potensi bahayanya tidak bisa diremehkan.

 

Dalam proses poduksi makanan, upaya keamanan pangan oleh industri makanan dikontrol dalam sistem jaminan mutu Hazard Analysis Critcal Control Point (HACCP)  untuk memastikan konsumen terhindar dari berbagai risiko bahaya, apabila masih ditemukan produk yang masih mengandung hazard (potensi bahaya) maka perlu dipertanyakan proses pengawasan dalam prosedur HACCP nya. Jika cacing dalam makarel ditemukan pada ikan yang mungkin masih mentah, maka jelas critical control poin-nya (CCP) tidak tercapai, sehingga harus dilakukan tindakan koreksi atau bahkan dimusnahkan.  Di sisi lain, pencerdasan terhadap masyarakat tentang keamanan pangan memang tidak semasif iklan-iklan produk makanannya. Sehingga, tidak semua memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi yang mendorong masyarakat untuk mengolah makanan dengan benar. Mungkin kita masih ingat beberapa waktu lalu mie instan asal luar negeri terbukti mengandung zat haram yang berasal dari babi. Maka jangan heran, ada makanan lain dengan cacing.

Prosedur penjaminan mutu pangan tidak hanya dengan penerapan HACCP. Negara dengan mayoritas Muslim harus mendapatkan sertifikat halal yang dalam prosesnya harus memenuhi persyaratan bukan hanya dari segi tidak ada zat haram, tapi juga mutunya baik.  Terlebih, masih banyak masyarakat yang bisa makan saja sudah bersyukur, kesehatan dan kebersihan tidak menjadi soal. Padahal, makanan yang dikonsumsi manusia, tidak cukup hanya halal tapi juga harus thayib atau baik bagi kesehatan.  Kenyataannya saat ini, sektor industri dan perdagangan mengalami liberalisasi, sehingga wajar jika makanan yang tidak terjamin kesehatannya juga ikut masuk ke dalam negeri secara besar-besaran. Jangankan yang tidak halal, yang tidak sehat pun boleh masuk. Sistem ekonomi kapitalis menyebabkan produsen hanya fokus pada keuntungan dan tidak sungkan untuk menekan biaya produksi,  salah satunya dari kualitas bahan baku.

 

Maka kembali lagi, rakyat butuh peran negara yang bisa  mengatur,  menjamin keamanan, kesehatan dan kesejahteraan warganya termasuk dalam hal makanan. Dalam sistem Islam,  makanan yang diproduksi jelas tidak boleh makanan yang tidak halal dan baik dari segi keamanan dan kesehatannya. Islam juga menerapkan sistem pengawasan pasar dari tindakan-tindakan penipuan yang ditugaskan pada hisbah. Hisbah ini akan menyelesaikan pelanggaran yang bisa membahayakan hak masyarakat. Landasan hisbah adalah berdasarkan apa yang diterapkan oleh Rasullullah SAW ketika melakukan inspkesi pasar dan menemukan pelanggaran berupa meletakkan kurma basah di bawah tumpukan kurma yang kering, sehingga dapat menutupi informasi bagi pembeli tentang kualitas kurma. Rasulullah SAW kemudian menegaskan bahwa hal tersebut dilarang dalam Islam. Hal ini menunjukan bahwa bukan hanya halal yang menjadi persoalan, namun kualitas dari produk juga diperhatikan. []

Your Thoughts