Intelektual Bicara Islam? Siapa Takut!

By:
Categories: Uncategorized
No Comments

Oleh : Lu’lu’ Firaudhatil Jannah, M.Si

 

Beberapa waktu lalu, muncul berita mengenai sebuah gerakan antipolitisasi masjid dan pada waktu sebelumnya, berita  yang sama  muncul di  media nasional.  Komentar pedas dan tanggapan keras pun bermunculan. Ketua Umum KB PII, Nasrullah Narada mengatakan, “Adanya gerakan dan seruan antipolitisasi masjid justru kontraproduktif dan menimbulkan keresahan umat Islam. Sebab, hal tersebut hanya menyempitkan fungsi masjid yang jelas tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga memang berfungsi sebagai tempat menyelesaikan berbagai persoalan umat dari soal ekonomi, sosial, budaya, bahkan politik.” (itoday.co.id). Bahkan menurut Akhmad Danial, “Gerakan antipolitisasi masjid dan larangan ceramah politik di masjid merupakan tudingan memuakkan yang berangkat dari rasa takut terhadap ajaran Islam atau islamophobia.” (republika.co.id)

 

Islamophobia  merupakan sebuah proyek  yang telah menelan biaya lebih dari 40 juta USD selama sepuluh tahun terakhir dan didanai oleh tujuh yayasan di Amerika Serikat, yakni Richard Mellon Scaife Foundation, Lynde and Harry Bradley Foundation, The Newton D. & Rochelle F. Becker Foundation’s, Russell Berrie Foundation, Anchorage Charitable Fund and William Rosenwald Family Fund, Fairbrook Foundation.

 

Islamophobia adalah bentuk politik kolonialisme, perang ideologi terhadap Islam dan kaum Muslimin yang dilakukan Amerika serikat dan Zionis,” tulis Dr. Ismali Salami, seorang pengamat ahli Timur Tengah dalam artikelnya yang dipublikasikan oleh Press TV.

 

Berdasarkan laporan RAND Corporation, Amerika Serikat sendiri memang merancang pendekatan yang amat halus pertarungan ideologi Islam dan Kapitalisme. Amerika Serikat sebagai pengusung ideologi Kepitalisme Liberal  dalam pertarungan tersebut akan melibatkan dunia Islam dengan menggunakan nilai-nilai (Islam) yang dimilikinya.  Untuk memuluskan rencananya tersebut, AS harus menyiapkan mitra, sarana dan strategi demi memenangkan pertarungan.  Tujuannya untuk mencegah penyebaran Islam politik, menghindari kesan bahwa AS menentang Islam dan mencegah agar masalah ekonomi, sosial dan politik tidak menyuburkan radikalisme Islam (Cheryl Bernard, 2003). Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya memiliki kepentingan untuk menjaga dominasi kultur dalam peradaban global sehingga memojokkan Islam dan ajaran Islam yang dianggap sebagai lawan (Sun Choirol Ummah, 2012 : 115)

 

Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) Adnin Armas menyebutkan, Islamophobia bisa jadi tidak hanya terjadi di Eropa dan Amerika, tetapi juga di Indonesia. Di Indonesia sendiri seringkali kita melihat gejala-gejala turunan dari Islamophobia seperti  Syariahphobia, Cadarphobia, Khilafahphobia. Orang-orang yang ingin berkontribusi dan mencintai agama Islam dengan menjalankan kehidupannya sesuai tuntutan syariat karena bisa dituduh konservatif, fundamentalis, radikal, anti kemajuan, anti Barat, anti NKRI dan fitnah-fitnah serupa. Islam radikal sendiri diartikan sebagai paham, wacana dan aktivisme umat Islam yang bertujuan mengubah sistem politik, ekonomi, sosial dan budaya yang ada menjadi sistem Islami. Bagi kaum Islamist, Islam dipahami tidak sekadar agama, tetapi juga ideologi politik, yang berdiri sejajar dengan ideologi politik besar lainnya semacam demokrasi, sosialisme dan kapitalisme. (simbi.kemenag.go.id)

 

Islamophobia dapat tumbuh subur karena: pertama, kuatnya cengkeraman paham sekularisme, demokrasi dan hak asasi manusia. Cengkeraman ini begitu kuat di benak kaum Muslimin karena ia ditanamkan melalui kurikulum pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggai dan media massa. Kedua, karena adanya agenda monsterisasi Islam kaffah dan Islam politik. Paham demokrasi dan sekularisme memang saat ini dianggap sistem politik terbaik. Sistem demokrasi yang dalam penerapannya menjadikan manusia sebagai pembuat hukum untuk dirinya sendiri sebagai sebuah bentuk kebebasan dari segala doktrin otomatis menganggap Islam sebagai sebuah kekuatan absolut yang menindas. Oleh karena itu, Islam sebagai agama sempurna dan memberikan solusi permasalahan kehidupan termasuk di dalamnya masalah politik distigmatisasi. Ide dan pembahasan mengenai penerapan syariah dalam ruang lingkup Khilafah selalu dituduh sebagai sumber anarkisme dan berpotensi menyulut konflik horizontal di masyarakat. Hal inilah yang mendorong pemerintah dan pendukungnya selalu mengeluarkan program atau pernyataan untuk menjauhkan dari Islam dari politik.

 

Alasan terakhir yang menyebabkan Islamophobia atau rasa takut akan kebangkitan dan ajaran Islam adalah pengkategorisasian umat Islam dengan banyak predikat atau sebutan. Arus moderasi Islam yang didukung penuh oleh Barat membuat kaum Muslim terkotak-kotak menjadi beberapa kutub seperti kutub modernis, tradisionalis, radikal-moderat, spiritual-politik, kultural-struktural, atau formalis-substansialis. Lebih lanjut lagi, banyak kalangan seperti pemerintah memberikan dukungananya baik opini maupun dana bagi kelompok-kelompok liberal, modernis, moderat, dan sebagainya. Sekaligus menekan kelompok-kelompok yang mereka beri predikat fundamentalis, radikal, dan sebagainya. Hal ini sesuai dengan pidato Presiden Jokowi yang menyatakan bahwa Indonesia berusaha untuk menjadi model Islam moderat. (dw.com)

 

Pada laporan RAND Corporation, disebutkan bahwa seorang Muslim bisa dikatakan sebagai  Muslim moderat jika memiliki karakter antara lain menerima ide dan pemikiran yang berasal dari Barat seperti demokrasi, kesetaraan jender, kebebasan beragama dan Hak Asasi Manusia, menghormati sumber hukum non-agama,  menentang terorisme, kekerasan dan radikalisme sesuai tafsiran Barat, toleran terhadap penyimpangan akidah, serta menentang ajaran Islam yang berkaitan dengan sistem politik seperti negara Islam, Khilafah dan jihad.

 

Berkembanganya pemahaman dengan predikat Islam moderat meningkatkan Islamophobia di tengah-tengah kaum Muslimin. Phobia berbeda dengan rasa takut biasa: Penyakit kejiwaan phobia ini takut Irrasional kepada  obyek tertentu, obyek itu sebenarnya tidak menyeramkan untuk sebagain besar orang. Karena itulah oleh pada ilmuwan psikologi, phobia ini dimasukkan dalam bab psikologi abnormal. Dalam kasus psikoabnormal Islamophobia atau Khilafahphobia adalah ketakutan abnormal terhadap Islam dan Khilafah yang keduanya sejatinya adalah  ajaran Islam yang mulia. Sejarah mencatat dengan tinta emas kegemilangan sejarah Islam sepanjang penerapan syariat Islam oleh kekhilafahan Islamiyah seperti kekhilafahan Abbaasyiyyah, Utsmaniah dan lainnya. Sejarawan Muslim dan non-Muslim seperti Bloom and Blair, Hourani dan Karen Amstrong mencatat pada bukunya masing-masing bagaimana kaum Muslimin dan pemerintahannya hidup damai, aman dan sejahtera di bawah penerapan Islam dalam wadah Khilafah Islamiyah.

 

Ketakutan yang irrasional terhadap syariah dan Khilafah perlu dihindari. Hal ini karena disebabkan, pada faktanya kedua ajaran Islam tersebut dalam sejarah mendatangkan kejayaan pada umat yang menerapkannya. Tidak hanya itu, sebagai seorang Muslim sudah sepantasnya menjalankan ajaran agamanya secara total dan tidak tebang pilih dalam menjalankan perintah Allah SWT. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (QS Al-Baqarah [2]: 208).

 

Imam Ath-Thabari menyatakan, Ayat di atas merupakan perintah kepada orang-orang beriman untuk menolak selain hukum Islam dan untuk menjalankan syariat Islam secara menyeluruh; juga merupakan larangan untuk mengingkari satu pun hukum yang merupakan bagian dari hukum Islam.”

 

Selain itu Allah juga berfirman, “Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS Al-Maidah [5]: 49).

 

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk menerapkan hukum kepada masyarakat dengan hukum yang diturunkan Allah SWT. Imam Fakhruddin Ar-Razi, dalam kitab Mafatihul Ghaib fii At-tafsir, saat beliau menjelaskan surah Al-Maidah ini, beliau mengatakan “Para Mutakallimin berhujjah dengan ayat ini bahwa wajib atas umat untuk mengangkat seorang imam/Khalifah  tertentu untuk mereka.”

 

Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa menjalankan kehidupan dengan tuntutan syariah merupakan kewajiban seorang Muslim. Bukan hanya mengenai syariah, ajaran mengenai Khilafah pun sebenarnya adalah ajaran Islam. Dalam kitab al-Fiqh ’ala al-Mazhahib al-Arba’ah, karya Syaikh Abdurrahman al-Jaziry, Juz V hal. 362 (Beirut : Darul Fikr, 1996) disebutkan: “Para imam-imam [Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad] –rahimahumullah— telah sepakat bahwa Imamah [Khilafah] adalah fardhu, dan bahwa tidak boleh tidak kaum Muslimin harus mempunyai seorang Imam [Khalifah] yang akan menegakkan syiar-syiar agama serta menyelamatkan orang-orang terzalimi dari orang-orang zalim. [Imam-imam juga sepakat] bahwa tidak boleh kaum Muslimin pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam [Khalifah], baik keduanya bersepakat maupun bertentangan.”

 

Islam memiliki aturan yang khas dan unik dalam setiap sendi kehidupan manusia baik di level individu, ekonomi, sosial, bahkan politik. Seorang Muslim tidak selayaknya takut pada ajaran Islam, agamanya sendiri. Atau takut dan sungkan dengan salah satu ajaran agamanya seperti takut pada ajaran syariah ataupun khilafah. Terlebih lagi, ia adalah seorang intelektual. Kaum intelektual telah dikaruniai oleh Allah SWT kecerdasan dan kepandaian, sudah sepantasnya menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan Islam, menjaga Islam dan melindunginya untuk tidak mudah terpecah belah dan diadu domba oleh musuh-musuh Islam, sehingga kaum Muslimin bisa kembali bangkit. Intelektual menjadi pelindung umat untuk terus bersama berjuang menerapkan hukum Allah agar keberkahan turun di muka bumi.

 

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari seraya mengharap keridhaan-Nya dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya itu telah melewati batas” (QS Al-Kahfi : 28).[]

 

Your Thoughts