Merindukan Ramadhan Bersama Sang Pelindung Umat

By:
Categories: Uncategorized
No Comments

Oleh:  Dr. Retno Muninggar, S.Pi, ME

 

Ramadhan tahun ini tak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, umat Islam terus mengalami intimidasi dan pembantaian. Anak-anak Suriah dan Palestina menjalani shaum Ramadhan tanpa makanan yang cukup, bahkan seringkali mereka tak makan sahur dan tak bisa berbuka puasa dengan makanan yang layak. Sungguh Ramadhan yang memilukan hati karena umat telah kehilangan perlindung dan penjaganya.

 

Ketiadaan pelindung dan penjaganya menyebabkan  rasa aman kaum Muslim seluruh dunia tercerabut. Berbagai peristiwa mengerikan yang menimpa umat Islam telah dan sedang terjadi. Negara-negara kafir melakukan ‘pesta penjajahan’ dengan menjadikan semua negeri Muslim menjadi target operasi. Darah-darah tertumpah. Kekayaan alamnya dijarah. Tanah umat pun menyusut mulai dari ujung-ujungnya, bahkan dari jantungnya. Yahudi telah merampas tanah penuh berkah, Palestina, Tanah Isra’ dan Mikraj, bumi kiblat pertama. Di sana, mereka mendirikan sebuah negara. Mereka pun menebarkan kerusakan dan merusak tanah tersebut. Para penjajah menghalau dan mengusir penduduknya dari rumah-rumah mereka, menodai kehormatan mereka, membunuh dan menumpahkan darah mereka.

 

Amerika dan Eropa pun telah menumpahkan darah kaum Muslim, merobek-robek negeri Irak dan Afganistan, serta melakukan makar kepada kita di semua tempat. Amerika telah membagi Sudan, melepaskan Timor Timur dari Indonesia, mendukung Yunani menguasai Cyprus. Bersama Amerika, Inggris terlibat dalam pembantaian di Irak, Afganistan dan Libya. Prancis mengikuti mereka dalam aksi pembantaian kaum Mulsim di berbagai tempat. Rusia membantai umat Islam di Cremia, Kaukasus, Chechnya, Tataristan. China membantai umat Islam di Turkmenistan. India membantai umat Islam di Kashmir. Bahkan, negara kecil seperti Burma (Myanmar) pun ikut terlibat membantai kaum Muslim di negeri mereka sendiri!

 

Persekongkolan para penjajah tidak berhenti sampai di sini, mereka terus menghadang para pengembah dakwah yang menyerukan Islam Kaffah dan penegakan kembali khilafah. Lihat saja di negeri kita Indonesia, penjegalan dilakukan terhadap aktivitas dakwah melalui persekusi ulama dan intelektual atas dukungannya terhadap Islam kaffah. Ditambah lagi peristiwa teror bom yang mengarahkan pada kriminalisasi Islam dan upaya menyuburkan Islamophobia di tengah negeri mayoritas Muslim. Belum lagi segunung permasalahan umat yang tak pernah selesai seperti harga kebutuhan hidup yang tidak terjangkau, kemiskinan, kriminalitas, kekerasan seksual dan sebagainya melengkapi nestapa umat Islam.

 

Keberadaan khilafah sebagai pelindung umat, sangat dirindukan saat ini tatkala umat benar-benar terbelenggu dalam nestapa yang tak berkesudahan. Apalagi di bulan Ramadhan mubarak ini, umat Islam tak bisa khusyu’ menjalankan ibadah terbaiknya untuk meraih kemuliaan karena berbagai ujian dan penindasan.  Seharusnya, di bulan Ramadhan ini, umat begitu gembira menyambutnya dan mengisinya dengan berbagai amal shalih. Sebagaimana hadits tentang keutamaan Ramadhan: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni (HR. Bukhari Muslim)

 

“Jika telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” [Muttafaqun ‘alaihi]

 

“Carilah lailatul qadr pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhori).

 

Kondisi Ramadhan saat ini berbeda jauh dengan apa yang terjadi pada masa Rasulullah SAW dan para Khalifah di mana Ramadhan saat itu adalah bulan ibadah. Ramadhan tidak hanya dioptimalkan individu namun negara memastikan umat mengoptimalkan ibadah dan ketakwaan baik pada malam maupun siang harinya. Pada akhir Sya’ban, umat Islam menyambut gembira datangnya Ramadhan. Pada malam menjelang Ramadhan yaitu menjelang Maghrib, kaum Muslimin mencari hilal. Khalifah berpidato menyampaikan hasil itsbat 1 Ramadhan, disertai dengan nasihat-nasihat penting. Khalifah Shalat tarawih berjama’ah di masjid, menghidupkan malam dengan banyak dzikir, qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an dan berbagai halqoh-halqoh. Kemudian makan sahur dan dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an dan berdzikir.

 

Siang hari Ramadhan, tidak ada orang yang makan, minum, merokok, dan aktivitas yang membatalkan puasa di tempat publik. Menjelang adzan, orang berbondong-bondong untuk shalat di masjid, memperbanyak dzikir, dan tilawah Al-Qur’an. Sambil menunggu waktu berbuka, berlomba-lomba memberikan ta’jil kepada kaum Muslimin lain yang hendak berbuka. Sungguh pemandangan yang menyejukkan dan menambah ketakwaan di bulan Ramadhan.

Oleh:  Dr. Retno Muninggar, S.Pi, ME

 

Ramadhan tahun ini tak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, umat Islam terus mengalami intimidasi dan pembantaian. Anak-anak Suriah dan Palestina menjalani shaum Ramadhan tanpa makanan yang cukup, bahkan seringkali mereka tak makan sahur dan tak bisa berbuka puasa dengan makanan yang layak. Sungguh Ramadhan yang memilukan hati karena umat telah kehilangan perlindung dan penjaganya.

 

Ketiadaan pelindung dan penjaganya menyebabkan  rasa aman kaum Muslim seluruh dunia tercerabut. Berbagai peristiwa mengerikan yang menimpa umat Islam telah dan sedang terjadi. Negara-negara kafir melakukan ‘pesta penjajahan’ dengan menjadikan semua negeri Muslim menjadi target operasi. Darah-darah tertumpah. Kekayaan alamnya dijarah. Tanah umat pun menyusut mulai dari ujung-ujungnya, bahkan dari jantungnya. Yahudi telah merampas tanah penuh berkah, Palestina, Tanah Isra’ dan Mikraj, bumi kiblat pertama. Di sana, mereka mendirikan sebuah negara. Mereka pun menebarkan kerusakan dan merusak tanah tersebut. Para penjajah menghalau dan mengusir penduduknya dari rumah-rumah mereka, menodai kehormatan mereka, membunuh dan menumpahkan darah mereka.

 

Amerika dan Eropa pun telah menumpahkan darah kaum Muslim, merobek-robek negeri Irak dan Afganistan, serta melakukan makar kepada kita di semua tempat. Amerika telah membagi Sudan, melepaskan Timor Timur dari Indonesia, mendukung Yunani menguasai Cyprus. Bersama Amerika, Inggris terlibat dalam pembantaian di Irak, Afganistan dan Libya. Prancis mengikuti mereka dalam aksi pembantaian kaum Mulsim di berbagai tempat. Rusia membantai umat Islam di Cremia, Kaukasus, Chechnya, Tataristan. China membantai umat Islam di Turkmenistan. India membantai umat Islam di Kashmir. Bahkan, negara kecil seperti Burma (Myanmar) pun ikut terlibat membantai kaum Muslim di negeri mereka sendiri!

 

Persekongkolan para penjajah tidak berhenti sampai di sini, mereka terus menghadang para pengembah dakwah yang menyerukan Islam Kaffah dan penegakan kembali khilafah. Lihat saja di negeri kita Indonesia, penjegalan dilakukan terhadap aktivitas dakwah melalui persekusi ulama dan intelektual atas dukungannya terhadap Islam kaffah. Ditambah lagi peristiwa teror bom yang mengarahkan pada kriminalisasi Islam dan upaya menyuburkan Islamophobia di tengah negeri mayoritas Muslim. Belum lagi segunung permasalahan umat yang tak pernah selesai seperti harga kebutuhan hidup yang tidak terjangkau, kemiskinan, kriminalitas, kekerasan seksual dan sebagainya melengkapi nestapa umat Islam.

 

Keberadaan khilafah sebagai pelindung umat, sangat dirindukan saat ini tatkala umat benar-benar terbelenggu dalam nestapa yang tak berkesudahan. Apalagi di bulan Ramadhan mubarak ini, umat Islam tak bisa khusyu’ menjalankan ibadah terbaiknya untuk meraih kemuliaan karena berbagai ujian dan penindasan.  Seharusnya, di bulan Ramadhan ini, umat begitu gembira menyambutnya dan mengisinya dengan berbagai amal shalih. Sebagaimana hadits tentang keutamaan Ramadhan: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni (HR. Bukhari Muslim)

 

“Jika telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” [Muttafaqun ‘alaihi]

 

“Carilah lailatul qadr pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhori).

 

Kondisi Ramadhan saat ini berbeda jauh dengan apa yang terjadi pada masa Rasulullah SAW dan para Khalifah di mana Ramadhan saat itu adalah bulan ibadah. Ramadhan tidak hanya dioptimalkan individu namun negara memastikan umat mengoptimalkan ibadah dan ketakwaan baik pada malam maupun siang harinya. Pada akhir Sya’ban, umat Islam menyambut gembira datangnya Ramadhan. Pada malam menjelang Ramadhan yaitu menjelang Maghrib, kaum Muslimin mencari hilal. Khalifah berpidato menyampaikan hasil itsbat 1 Ramadhan, disertai dengan nasihat-nasihat penting. Khalifah Shalat tarawih berjama’ah di masjid, menghidupkan malam dengan banyak dzikir, qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an dan berbagai halqoh-halqoh. Kemudian makan sahur dan dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an dan berdzikir.

 

Siang hari Ramadhan, tidak ada orang yang makan, minum, merokok, dan aktivitas yang membatalkan puasa di tempat publik. Menjelang adzan, orang berbondong-bondong untuk shalat di masjid, memperbanyak dzikir, dan tilawah Al-Qur’an. Sambil menunggu waktu berbuka, berlomba-lomba memberikan ta’jil kepada kaum Muslimin lain yang hendak berbuka. Sungguh pemandangan yang menyejukkan dan menambah ketakwaan di bulan Ramadhan.

 

Ramadhan juga merupakan bulan dakwah dan jihad menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin. Begitu banyak peristiwa jihad terjadi pada saat Ramadhan, sebagaimana tertulis dalam Sirah Nabawwiyah,  di antaranya seperti Perang Badar, Fathu Makkah, Perang Tabuk, dan peristiwa lainnya yang terjadi di bulan Ramadhan.

 

Para imam-imam [Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad] –rahimahumullah— telah sepakat bahwa Imamah [Khilafah] adalah fardhu, dan bahwa tidak boleh tidak kaum Muslimin harus mempunyai seorang Imam [Khalifah] yang akan menegakkan syiar-syiar agama serta menyelamatkan orang-orang terzalimi dari orang-orang zalim. [Imam-imam juga sepakat] bahwa tidak boleh kaum Muslimin pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam [Khalifah], baik keduanya bersepakat maupun bertentangan…”

 

Keberadaan Khilafah telah jelas kewajibannya dalam tataran syariah, dan juga merupakan solusi bagi permasalahan umat serta keniscayaan masa depan. Perubahan ke arah Khilafah merupakan perubahan secara total karena menyentuh pondasi sistem dalam sebuah pemerintahan dan bukan hanya sekadar mengganti rezim ataupun kebijakan tambal sulam semata. Hal ini dikarenakan permasalahan umat yang berkepanjangan diakibatkan hilangnya institusi pelindung umat. Oleh karena itu perubahan seharusnya bersifat inqilabiyyah (perubahan total) dan bukan tarqi’iyyah (parsial). Mengganti undang-undang, mengganti presiden dan menteri bukanlah solusi bagi permasalahan umat saat ini. Solusi parsial hanya menjadikan Islam terus menerus menjadi cemoohan. Maka, jadikanlah Ramadhan sebagai momem untuk meraih kembali kemuliaan Islam dengan berjuang untuk menegakkan khilafah agar Ramadhan selanjutnya kaum Muslimin mempuyai pelindungnya yaitu seorang Khalifah dalam kekhilafahan Islam[]

 

 

Ramadhan juga merupakan bulan dakwah dan jihad menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin. Begitu banyak peristiwa jihad terjadi pada saat Ramadhan, sebagaimana tertulis dalam Sirah Nabawwiyah,  di antaranya seperti Perang Badar, Fathu Makkah, Perang Tabuk, dan peristiwa lainnya yang terjadi di bulan Ramadhan.

 

Para imam-imam [Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad] –rahimahumullah— telah sepakat bahwa Imamah [Khilafah] adalah fardhu, dan bahwa tidak boleh tidak kaum Muslimin harus mempunyai seorang Imam [Khalifah] yang akan menegakkan syiar-syiar agama serta menyelamatkan orang-orang terzalimi dari orang-orang zalim. [Imam-imam juga sepakat] bahwa tidak boleh kaum Muslimin pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam [Khalifah], baik keduanya bersepakat maupun bertentangan…”

 

Keberadaan Khilafah telah jelas kewajibannya dalam tataran syariah, dan juga merupakan solusi bagi permasalahan umat serta keniscayaan masa depan. Perubahan ke arah Khilafah merupakan perubahan secara total karena menyentuh pondasi sistem dalam sebuah pemerintahan dan bukan hanya sekadar mengganti rezim ataupun kebijakan tambal sulam semata. Hal ini dikarenakan permasalahan umat yang berkepanjangan diakibatkan hilangnya institusi pelindung umat. Oleh karena itu perubahan seharusnya bersifat inqilabiyyah (perubahan total) dan bukan tarqi’iyyah (parsial). Mengganti undang-undang, mengganti presiden dan menteri bukanlah solusi bagi permasalahan umat saat ini. Solusi parsial hanya menjadikan Islam terus menerus menjadi cemoohan. Maka, jadikanlah Ramadhan sebagai momem untuk meraih kembali kemuliaan Islam dengan berjuang untuk menegakkan khilafah agar Ramadhan selanjutnya kaum Muslimin mempuyai pelindungnya yaitu seorang Khalifah dalam kekhilafahan Islam[]

 

 

Your Thoughts