Kuliahmu Untuk Apa?

By:
Categories: Uncategorized
No Comments

Oleh : Rissa S Mulyana, Mahasiswi Psikologi Universitas Gunadarma

Pengumuman SNMPTN dan SBMPTN telah berakhir, sebagian siswa menjadi mahasiswa baru di beberapa PTN, sebagian lagi berjuang masuk ke Perguruan Tinggi swasta. Semuanya sama, ingin melanjutkan jenjang pendidikan tinggi setelah sebelumnya bergelut dengan pertimbangan memilih mana jurusan yang paling sesuai dengan passion, maupun jurusan yang memiliki prospek kerja menjanjikan. Tidak bisa dipungkiri, pola pikir masyarakat kita masih menentukan jurusan berdasarkan prospek kerja dan keuntungan materil.

Terlepas dari pandangan tersebut, Psikologi menjadi salah satu jurusan yang paling diminati di Perguruan Tinggi (https://www.ican-education.com/berita-event/news/jurusan-kuliah-paling-diminati). Jurusan ini bisa dimasuki oleh siswa yang berasal dari IPA maupun IPS, tergantung basis ilmu yang digunakan oleh Jurusan Psikologi di masing-masing kampus. Beberapa Jurusan Psikologi yang berbasis klinis contohnya adalah Psikologi Unpad dan Psikologi UNS. Sementara Jurusan Psikologi yang berbasis ilmu sosial adalah Psikologi UI, Psikologi UPI, Psikologi UNJ, Psikologi UNAIR dan banyak lagi kampus lainnya.  Saya sendiri sekarang ada di jurusan Psikologi yang berbasis ilmu sosial, sehingga pendekatan-pendekatan yang diambil untuk menyelesaikan berbagai kasus adalah menggunakan imu sosial.

Selama 4 tahun menyandang status sebagai Mahasiswa Psikologi, saya banyak menemui contoh kasus dari mulai masalah individu hingga sosial kemasyarakatan seperti permasalahan depresi, kekerasan seksual, child abuse, gangguan kejiwaaan, fenomena psikologi massa, cyber bullying, konformitas, drug abuse, dan sebagainya.

Dari berbagai contoh kasus yang saya temui, Psikologi menawarkan beberapa solusi dan pencegahan bagi permasalahan tersebut misalnya dengan terapi, konseling, modifikasi perilaku, dan banyak lagi. Luar biasa bukan? Namun ada yang lebih menakjubkan buat saya, yakni dengan semakin saya tahu solusi-solusi dari Psikologi, saya semakin menyadari bahwa sebenarnya Islam sudah memberikan solusi tersebut. Jelas termaktub dalam Al-Quran dan seperangkat hukum syara’ yang dimiliki Islam. Hingga saya sampai kepada kesimpulan bahwa Islam memang sempurna!

Kita cari satu contoh saja misalnya permasalahan depresi hingga suicidal thought. Untuk permasalahan tersebut, Psikologi menerangkan beberapa penyebab dan solusinya. Salah satu penyebab depresi, menurut Psikologi, adalah karena meluapnya beban pikiran dalam jangka waktu yang lama sedangkan individu yang bersangkutan tidak mampu menyelesaikan permasalah tersebut, ditambah dengan tidak ada tempat untuk bercerita dan meluapkan perasaannya, akhirnya segala macam emosi bertumpuk dengan masalah yang tak selesai, depresi berkepanjangan hingga ada pikiran untuk mencoba mengakhiri hidup (bunuh diri; suicide).

Saya lantas berpikir, bagi seorang Muslim, tentu tak akan dan tak seharusnya berpikir untuk mengakhiri hidup bila ditimpa masalah yang bertubi-tubi. Bagi Muslim yang benar-benar beriman kepada Allah, tentulah meyakini bahwa segala masalah akan mampu dihadapi karena Allah tak menimpakan sebuah beban di luar kesanggupan kita.

Pun bila seseorang mengalami depresi karena merasa tidak dipedulikan lingkungan sekitar, maka dalam Islam, tidak dibolehkan untuk bersikap apatis dan mengacuhkan sekitar. Contohnya, Islam mengajarkan untuk memuliakan tetangga, berbudi baik kepada orang tua, saling memberi hadiah kepada teman, menjenguk orang sakit, membantu orang yang kesulitan, dan banyak lagi bila ingin didetaili satu per satu. Maka saya semakin mengagumi Islam dengan kelengkapan aturannya. Seharusnya kalau sudah kenal Islam, seseorang akan merasa baik-baik saja dengan kejiwaannya

Seorang mahasiswa Muslim sudah seharusnya memiliki standar baku yang jelas dalam membentuk paradigma berpikir. Apa lagi yang akan dijadikan standar kalau bukan Al-Quran dan Sunnah? Pun dalam menimba ilmu, segala yang kita dapatkan dari hasil belajar di universitas, tentu harus disesuaikan dengan tuntunan agama. Bukan sebaliknya. Psikologi sebagai ilmu yang dibidani Barat, mengandung banyak sekali pemikiran yang dari sana muncullah solusi untuk beberapa permasalahan namun sifatnya hanya pada tataran teknis saja. Sebagian bisa kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, namun tetap harus pandai memfilter teknik mana yang bebas nilai, sebab bila asal pakai dan terapkan, banyak teknik dan teori dalam Psikologi yang mengandung unsur sekularisme. Sementara kita sebagai Muslim, tidak boleh mengambil sekularisme, memisahkan agama dari kehidupan.

Sebagai seseorang yang pernah menjadi mahasiswa baru, saya merasakan betul semangat memasuki dunia kampus, semuanya serba baru, budaya diskusi dan lingkungan perkuliahan yang jauh berbeda dari budaya belajar di SMA. Alangkah mulianya bila semangat menimba ilmu tersebut disertai kesadaran penuh untuk semata-mata mendekatkan diri pada Allah. Sebaik-baiknya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat mendekatkan kita pada Allah, semakin menginsyafi diri bahwasanya Allah yang mencipta seisi bumi lengkap dengan tuntunan cara mengaturnya (re : hukum syara’).

Islam mewajibkan kaum Muslimin untuk menimba ilmu, terutama ilmu agama. Adapun bila kita ahli dan menjadi pakar dalam suatu bidang ilmu alat, maka jadikan ilmu tersebut untuk kebermanfaatan bagi ummat dengan orientasi mendekat menuju Allah.  Jangan sampai gelar yang kita dapat nantinya hanya menjadi titel di akhir nama untuk mencari popularitas dunia saja, tetapi lupa esensi ilmu dan mengabaikan akhirat. Alangkah baiknya kita renungkan kembali, untuk mahasiswa baru maupun yang telah menjadi mahasiswa: “Kuliahmu, Untuk Apa?” []

Your Thoughts