DRAMA POLITIK SEKULER

By:
Categories: Uncategorized
No Comments

Oleh: Siti Mawadah (Mahasiswi Universitas Jayabaya)

Akhir-akhir ini kembali terjadi ‘drama’ politik yang dipertontonkan di tengah masyarakat menjelang pilpres bulan April mendatang. Nampaknya tidak ada habis-habisnya ‘drama’ antara kubu petahana dan oposisi yang saling menuding satu sama lain. Pada tanggal 2 Januari 2018, twitter  dihebohkan dengan adanya isu berita 7 kontainer yang membawa kertas suara tercoblos ke pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Namun, berita tersebut langsung ditepis oleh Ketua KPU Arief Budiman, “Kami memastikan berdasarkan keterangan pihak bea cukai, tidak ada berita tentang tujuh kontainer tersebut. Itu tidak benar,” ucap Ketua KPU Arief Budiman, Rabu (2/1) tengah malam (CNN Indonesia).

Kendati demikian bukannya mereda, isu tersebut kemudian dimanfaatkan oleh salah satu kubu untuk menjatuhkan kubu yang lain. Kali ini korbannya adalah wakil Sekjen salah satu parpol. Dia dituding telah menyebarkan berita hoax di akun twitter pribadinya dan akan segera mempertimbangkan untuk melaporkan kejadian tersebut ke Bareskrim Mabes Polri.

Rakyat terus menerus disuguhkan oleh tontonan ‘drama’ politik yang tidak berkesudahan. Masing-masing kubu hanya sibuk berseteru dan saling mengacungkan telunjuk ke wajah lawan untuk mencari-cari kesalahan kubu lawannya, sedangkan rakyat hanya menjadi korban dari berita-berita kebohongan yang mereka suguhkan. Hal tersebut menyebabkan rakyat tidak bisa membedakan mana berita fakta, hoax dan fitnah.

Alih-alih penguasa yang seharusnya menjadi pemberantas kebohongan, justru malah ikut meramaikan ‘drama’ politik tersebut untuk melanggengkan kekuasaannya. Penguasa melontarkan tuduhan bahwa kubu lawan menggunakan konsultan asing untuk menyemburkan berita-berita hoax sehingga rakyat menjadi ragu. “Seperti yang saya sampaikan, teori propaganda Rusia seperti itu. Semburkan dusta sebanyak-banyaknya, semburkan kebohongan sebanyak-banyaknya, semburkan hoaks sebanyak-banyaknya sehingga rakyat menjadi ragu. Memang teorinya seperti itu” kata Jokowi (RMOL.co).

Salah satu pengamat politik berpendapat “Pembuat hoax terbaik adalah penguasa. Bisa berbohong sempurna karena menguasai media, memiliki data statistik dan intelijen”. Hal tersebut berksesuaian dengan fakta yang terjadi saat ini. ‘Drama’ politik terkait berita hoax ini bukan terjadi sekali saja. Namun, sejak awal kampanye hingga saat ini, kebijakan yang pro rakyat pun tidak dirasakan. Harga BBM tetap naik, impor pangan pun tetap dilakukan, serta banyak contoh lainnya. Akhirnya visi misi kampanye hanya menjadi “janji manis” saja.

Kebohongan dalam berpolitik sudah biasa terjadi di dalam sistem sekuler saat ini. Akhirnya berbagai cara dilakukan untuk meraih kekuasaan. Tidak peduli lagi benar ataupun salah,  asalkan tujuan mereka tercapai yaitu mendapatkan dukungan suara terbanyak, maka penyebaran berita hoax masif dilakukan. Menyerang kubu oposisi dengan berita hoax menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan demi melanggengkan kekuasaan.

Jauh berbeda dengan politik dalam sistem Islam yang mempunyai standar baku yaitu hukum syara’. Ridho Allah diatas segalanya, sehingga sikap berhati-hati untuk melakukan suatu perbuatan sangat dikedepankan oleh para penguasa. Menyebarkan berita hoax untuk menjatuhkan lawan politik dan meraih kekuasaan menjadi sesuatu hal yang bertentangan dengan hukum syara’. Kepentingan rakyat pun menjadi tanggungjawab penguasa untuk dipenuhi. Hal tersebut membuat rakyat bisa memberikan kepercayaan terhadap penguasanya.

Wallahu’alam

 

Your Thoughts