Ada Apa dengan Kafir?

By:
Categories: Uncategorized
No Comments

Oleh: Arvida Rizzqie Hanita

 

Sejak masa orde baru telah selesai, rakyat Indonesia selalu menggadang-gadangkan sistem pemerintahan yang baru. Rakyat menginginkan bahwa hak-hak mereka sebagai warga negara Indonesia terpenuhi dengan baik. Oleh karena itu, setelah masa kepemimpinan presiden Soeharto sekitar tahun 1998 ada proses yang bernama konsolidasi demokrasi. Di dalam konsolidasi demokrasi ini menekankan proses legitimasi yang kuat dan dalam, sehingga seluruh aktor politik percaya bahwa negara demokrasi adalah negara yang baik untuk dilaksanakan.

Jika sistem demokrasi memang sangat baik untuk dilaksanakan di sebuah negara, lalu mengapa rakyat tidak boleh menyatakan kritikan untuk antek-antek di dalam pemerintahannya? Justru yang terjadi adalah memutar balikkan fakta dengan dalih dan dalil yang mereka sendirilah yang menginterpretasikannya.

Salah satu contohnya adalah dengan sebuah pernyataan baru-baru ini tentang istilah “kafir” bagi yang bukan beragama Islam. Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu merasa bahwa istilah “kafir” ada istilah yang akan menyakitkan bagi setiap yang mendengarnya, terutama bagi masyarakat yang beragama selain Islam. Padahal jika bersumber dari istilah, tidak ada salahnya umat Islam menyebut masyarakat yang bukan Islam dengan istilah “kafir”. Jika perkara istilah saja menjadi masalah, apa kabar dengan perkara yang lebih besar dibandingkan dengan sebuah istilah?

“Saya selalu baca surat itu lakum diinukum waliyadiin, agamamu, agamamu. Kamu tidak menyembah apa yang saya sembah dan saya tidak menyembah apa yang kamu sembah. Masuk neraka itu urusan Tuhan, enaknya kalau bilang kafir-kafir. Kalau ada yang bilang kafir, saya tempeleng. Pancasila itu persatuan Indonesia yang berperikemanusiaan”, ucapnya saat ditemui dalam rapat Koordinasi dan Evaluasi Pelaksanaan Bela Negara di Kemhan.

Kata kafir sendiri berasal dari kata kafar yang artinya menutup diri, artinya orang-orang yang belum membuka diri pada Islam disebut dengan kafir. Dalam kamus KBBI kafir adalah orang yang tidak menyembah selain Allah dan Rasul-Nya. Hal ini hanya sebuah istilah kebahasaan saja dalam Islam, jadi bukan berarti kata kafir itu adalah kata yang tidak sopan. Tertulis dalam Al Quran, surat Al Kafirun: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah…”. Artinya, wahai orang kafir, kami umat Islam tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

Di zaman Rasulullah SAW, orang Arab yang pandai berbahasa Arab dan yang bukan beragama Islam saja mereka tidak mempermasalahkan istilah demikian. Mereka sadar bahwa dirinya adalah orang kafir yang tidak beribadah kepada Allah SWT. Justru hal ini berkebalikan dengan sistem yang diterapkan sekarang ini. Islam seperti dijadikan “kambing hitam”, hingga akhirnya muncul Islamophobia, karena dianggap agama Islam itu keras dan tidak memiliki rasa toleransi kepada agama yang lain.

Saat ini muncul banyak framing negatif terhadap ajaran Islam dan pengembannya.   “Di negara ini berbicara Khilafah haram hukumnya, sebab Hizbut Tahrir sudah dibubarkan, jadi segala ide dan atributnya juga menjadi terlarang. Apalagi kalian mau menegakkan Khilafah…” menurut Rektor UINSU yang ditirukan oleh Andika Mirza selaku Ketum Gema Pembebasan Sumut. Untuk merubah sistem ke dalam sistem Khilafah bagi kebanyakan orang adalah hal yang tidak memungkinkan. Orang beranggapan bahwa Indonesia terdiri dari beragam pulau, suku, bahasa, ras dan budaya sehingga tidak akan memungkinkan untuk mendirikan Khilafah di Indonesia.

Akan tetapi, fakta lain mengungkapkan bahwa dengan sistem Khilafah masyarakat tidak akan merasa tertindas, dapat mengemukakan pendapat sesuai dengan apa yang ingin mereka sampaikan kepada pemimpin mereka. Sebuah contoh adalah saat Umar bin Khattab dipilih sebagai Khalifah di bumi, ia masih saja menerima kritik tanpa adanya memutar balikkan fakta atau menjadi marah ketika dapat saran dan kritik dari masyarakatnya. Ia justru menerima dan berusaha sebaik mungkin untuk bisa menjadi pemimpin yang adil, arif, jujur serta bijaksana.

Contoh yang lain adalah saat zaman Rasulullah SAW, Rasul mempunyai tetangga yang berasal dari kaum Yahudi. Beliau justru tidak membantai seperti zionis yang saat ini sedang membantai umat Muslim. Justru beliau mencontohkan bahwa dengan sistem kepemimpinan Khilafah ada rasa toleransi di dalamnya. Tidak hanya tentang kemanusiaan, tapi Khilafah mengatur berbagai persoalan manusia berdasarkan syariat Islam.

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah’. Berkata mereka, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau?’. Dia berkata, ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S. Al Baqoroh: 30)

 

Your Thoughts