Islam dari Akar Hingga Ke Daunnya

By:
Categories: Uncategorized
No Comments

Oleh: Tika Maesaroh, M.Pd (Alumni UPI)

Banyak di antara kaum muslim saat ini terjebak dengan istilah ‘menerapkan spirit Islam dalam kehidupan’. Tentu sangat perlu kita apresiasi adanya ghirah umat muslim yang ingin menghadirkan Islam di tengah kehidupan. Namun, apakah penerapannya hanya sebatas spirit atau nilai semata? atau hanya simbol belaka saja?

Tidak sedikit kita temui para ustadz sekalipun menyampaikan bahwa penerapan syariah Islam tidak perlu dilakukan secara menyeluruh, yang penting nilai dan spiritnya ada dalam penerapan kehidupan baik secara individu maupun kehidupan bernegara. Sebagai contoh, seorang muslimah yang belum siap menjalankan kewajiban menutup aurat dianggap tetap religius jika ia berlaku jujur, tidak mencuri, murah senyum, dan suka menolong. Hal ini karena ia telah menerapkan nilai Islam yang lain dalam kehidupannya meskipun ia belum berkerudung.

Dalam kehidupan bernegara, fenomena membawa spirit Islam ini pun banyak kita temui.  Sebagai contoh, kepemimpinan Rasulullah SAW yang dekat dengan umat, bijaksana, adil dan jujur merupakan sikap yang wajib diikuti oleh setiap pemimpin.  Artinya, jika pemimpin sebuah negara telah memilki sifat-sifat tersebut, maka dianggap telah menjalankan spirit Islam dalam kepemimpinannya.  Pertanyaannya, benarkah Islam yang Allah turunkan kepada RasulNya diperintahkan untuk diterapkan dengan cara seperti itu? yang hanya berbekal spirit atau simbol saja?

Ternyata, Al-Qur’an secara tegas menyeru orang-orang beriman untuk melaksanakan ajaran Islam secara menyeluruh, tanpa membeda-bedakan ajaran yang satu dengan ajaran yang lain. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Ayat ini menunjukkan indikasi bahwa, di sana hanya terdapat dua buah pilihan, yaitu:

Pertama, masuk ke dalam Islam secara keseluruhan dengan melaksanakan ajarannya yang komprehensif dan paripurna, atau apabila tidak mau melaksanakan ajaran Islam secara keseluruhan, maka yang ada hanya pilihan kedua, yaitu mengikuti langkah-langkah syaitan dengan melakukan pembeda-bedaan ajaran Islam atau meremehkan sebagian ajarannya.

Oleh karena itu, menjadi seorang pribadi yang taat beragama bukan hanya sekedar menjalankan sebagian ajaran Islam tetapi menafikan aturan Islam yang lain. Sebab Islam yang Allah turunkan bukan hanya sebatas nilai kehidupan, namun lebih daripada itu Islam bersifat ajaran substansial yang mendasar ibarat air tanah yang diserap dari akar pohon hingga disebarkan ke seluruh daunnya. Islam adalah agama yang syamil (meliputi segala sesuatu) dan kamil (sempurna). Sebagai agama yang syamil, Islam menjelaskan semua hal dan mengatur segala perkara, yaitu akidah, ibadah, akhlak, makanan, pakaian, muamalah, uqubat (sanksi hukum), dll.  Tidak ada satu perkara pun yang luput dari pengaturan Islam. Hal ini Allah SWT tegaskan di dalam Al-Qur’an:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ

“Kami telah menurunkan kepada kamu Al-Quran sebagai penjelas segala sesuatu” (TQS An-Nahl [16]: 89).

Islam sekaligus merupakan agama yang kamil (sempurna), yang tidak sedikit pun memiliki kekurangan. Hal ini Allah SWT tegaskan dalam firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian (Islam), telah melengkapi atas kalian nikmat-Ku dan telah meridhai Islam sebagai agama bagi kalian” (TQS al-Maidah [5]: 3).

Karenanya, totalitas dan kesempurnaan Islam tentu tidak akan tampak kecuali jika kaum muslim mengamalkan Islam secara kaffah (total) dalam seluruh segi kehidupan, bukan sekedar membawa spirit apalagi hanya mengambil ajarannya sebagian tetapi menafikan ajarannya yang lain. Pendapat demikian tentu berasal dari cara berpikir yang dangkal karena tidak memahami Islam seutuhnya.

Dengan demikian seorang muslim tidak boleh untuk mengingkari atau mencampakkan sebagian syariah Islam dari realitas kehidupan dengan mengikuti prinsip sekularime (memisahkan agama dari kehidupan) sebagaimana yang dipraktikkan oleh negara saat ini. Allah SWT dengan tegas mengecam sikap semacam ini:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kalian mengimani sebagian Al-Kitab serta mengingkari sebagian yang lain? Tiada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada Hari Kiamat nanti mereka akan dilemparkan ke dalam siksa yang amat keras. Allah tidaklah lalai atas apa saja yang kalian kerjakan” (TQS al-Baqarah [2]: 85).

Your Thoughts