Mengembalikan Perisai yang Hilang: Khilafah

By:
Categories: Uncategorized
No Comments

Oleh: Rissa S Mulyana (Alumni Universitas Gunadarma)

Tanggal 3 Maret 1924 seharusnya menjadi tanggal yang tak terlupakan bagi kaum muslimin. Mengapa demikian? Karena saat itulah kaum muslimin kehilangan perisai ummat, payung pelindung bagi terlaksananya hukum syariat di bumi Allah, ialah Daulah Khilafah Islamiyah. Inilah institusi politis ummat Islam dalam bentuk sebuah negara yang melaksanakan hukum syara’ bagi siapa pun yang hidup di dalam naungannya. Khilafah Islamiyah berdiri sejak Rasulullah SAW berhasil meratakan tanah Madinah dengan Islam dan berdirilah Daulah Khilafah di sana, hingga bertahan belasan abad dan berakhir pada Kekhilafahan Ustmaniyah di Turki.

Khilafah melindungi darah, harta dan kehormatan kaum muslimin. Kaum muslim di seluruh dunia bersatu dalam satu kepemimpinan. Mereka bebas menjalankan syari’at tanpa gangguan dari musuh Islam. Hal ini berbanding terbalik ketika Khilafah Utsmaniyah runtuh di Turki Utsmani. Sejak ketiadaannya, kaum muslim tercerai berai menjadi berbagai negara bangsa, terpecah dalam pengaturan masing-masing negara tanpa syari’at Islam diterapkan di dalamnya.

Kaum muslim terjajah baik secara fisik maupun pemikiran. Telah kita saksikan bagaimana para kapitalis penjajah mengadu domba negeri-negeri muslim hingga terciptalah konflik di sana seperti Palestina, Yaman, Uyghur, Kashmir, Afghanistan, dan banyak lagi. Anak-anak muslim kehilangan ibu dan bapaknya, terpisah dari saudaranya, terenggut senyum masa kecilnya tergantikan dengan dentuman peledak atau senjata api yang menjadi pemandangan sehari-hari.

Di sisi lain, hal yang tak kalah mengerikan adalah terjajahnya kaum muslim secara pemikiran. Ummat muslim telah diracuni berbagai pemikiran asing seperti sekularisme, pluralisme, liberalisme, komunisme, dan isme-isme lain yang merusak kepribadian ummat sebagai seorang musim. Dengan sekularisme, ummat muslim memisahkan kehidupan publik dari agama. Mereka memandang agama sebagai urusan privat yang tidak perlu dilibatkan dalam kehidupan sosial publik termasuk dalam pengaturan negara. Dengan pluralisme, ummat muslim memandang semua agama adalah sama-sama benar karena mengajarkan kebaikan, alhasil pemikiran ini membuat ummat mengalami krisis kepribadian, tidak mampu mengenali identitas dirinya yang khas sebagai muslim, serta terjerembab jauh ke dalam toleransi berlebihan.

Melihat berbagai kondisi ummat muslim di dunia saat ini, hanya khilafah yang mampu menjadi metode nyata agar ummat terlindungi baik secara fisik maupun pemikiran karena Khilafah sebagai sistem kehidupan yang mengatur ummat dengan syari’at Islam. Allah telah memerintahkan kepada kita dalam Q.S. Al-Maidah: 49 untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan hukum Allah atau syari’at Islam dalam berbagai aspek kehidupan,

وَاَنِ احۡکُمۡ بَیۡنَہُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ وَلَا تَتَّبِعۡ اَہۡوَآءَہُمۡ وَاحۡذَرۡہُمۡ اَنۡ یَّفۡتِنُوۡکَ عَنۡۢ بَعۡضِ مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ اِلَیۡکَ ؕ  فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاعۡلَمۡ اَنَّمَا یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّصِیۡبَہُمۡ بِبَعۡضِ ذُنُوۡبِہِمۡ ؕ  وَاِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ لَفٰسِقُوۡنَ

“Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”

Ayat tersebut dengan jelas memerintahkan kita untuk tidak berhukum pada selain hukum Allah. Pengaturan kehidupan kita haruslah berstandarkan hukum syara’ dari Al-Quran dan Sunnah. Maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menyerukan urgensi dan kewajiban ummat muslim untuk hidup dalam naungan sistem Islam berupa Khilafah. Mengajak ummat untuk kembali kepada sistem kehidupan Islam harus menjadi perhatian utama dalam dakwah. Sekali lagi, karena hanya dengan Khilafah lah ummat muslim dapat menunaikan syari’at Islam secara kaffah dalam berbagai aspek kehidupan. Kesejahteraan yang dirasakan dalam naungan Khilafah bukan hanya bagi ummat muslim saja namun bagi seluruh alam. Karena hakikatnya Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Ketika hari ini banyak penentang berdirinya Khilafah, banyak yang tidak suka dengan gagasan kembalinya ummat muslim dalam satu kepemimpinan, maka hal tersebut sama sekali tidak mengubah kewajiban ummat muslim untuk hidup dalam naungan Khilafah. Selain itu, Khilafah merupakan janji Allah dan Rasul-Nya. Hal tersebut telah dikabarkan dengan rinci dalam hadits berikut,

Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam” (HR. Imam Ahmad).

Maka inilah saatnya ummat muslim menjemput kemuliaan dengan berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam dalam naungan Khilafah, menunaikan perintah Allah, menjemput janji yang telah dikabarkan Rasulullah. Kemenangan itu tak lama lagi akan menjadi milik ummat. Wallahu’alam bi ashawab. []

Your Thoughts