Menyoal Deklarasi Kebangsaan di Perguruan Tinggi

By:
Categories: Article
No Comments

Perguruan tinggi  harus berkomitmen terhadap peran dan fungsinya.  Terutama hari ini, ketika Indonesia tengah dibelit berbagai persoalan serius.  Sementara kemajuan riset dan teknologi tidak banyak bermanfaat dalam peningkatan kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa, sebagaimana kita saksikan bersama.

Kemajuan riset dan tekhnologi pangan misalnya  tidak banyak membantu kemudahan akses pangan publik.  Harga pangan tetap melambung, di tengah-tengah potensi sumber daya alam pertanian yang berlimpah.  Sementara itu kehidupan para petani dan nelayan  semakin susah.

Demikian pula tempat tinggal dan pemukiman layak huni, kian jauh dari jangkauan kantong rakyat umumnya.  Pada hal teknologi konstruksi dan bangunan serta potensi sumber daya alam perumahan tersedia berlimpah.

Akses terhadap air bersih, listrik, gas, BBM juga tidak mudah.  Harus dibayar mahal meski potensinya berlimpah dan riset serta teknologi aspek ini begitu maju.

Hal serupa pada kesehatan, jutaan jiwa kesulitan memperoleh jasa dokter, peralatan medis dan obat-obatan, di saat riset kesehatan dan farmasi maju pesat.   Demikian pula riset dan teknologi   transportasi yang canggih tidak banyak manfaatnya bagi kemudahan setiap orang memenuhi hajat transportasi publik yang murah, aman dan nyaman.

Sementara itu sistem pendidikan yang berkibat ke Barat sangat membebani masyarakat, dan  menyingkirkan hak kaum papa dan miskin.  Output-nyapun hanyalah pekerja terdidik sesuai kepentingan industrialisasi dan kebutuhan hegemoni terselubung.

Cukup mudah membuktikan pupusnya kedaulatan bangsa.  Hampir  semua kebutuhan masyarakat dipenuhi melalui impor.  Pembangunan sangat tergantung pada modal dan kemauan asing, termasuk dalam hal riset dan kemajuan teknologi.

Akhirnya yang tersisa hanyalah kehinaan, kegetiran hidup dan nestapa. Ratusan juta orang terancam dehumanisasi, kemiskinan sistemik, di samping rentan ditimpa berbagai bencana ekologi yang mematikan.

Bahaya neokolonialisme, begitu nyata di depan mata.  Kedaulatan bangsa benar-benar terancam, rentan konflik dan perpecahan.  Meski  pemerintah terus berseru untuk berinovasi dan meraih kemajuan riset dan teknologi.

Sangat jelas inilah buah pahit  kehadiran pemerintah dengan konsep-konsep dan mind set neoliberalisme.  Beserta keseluruhan sistem kehidupan sekuler yang menyingkirkan peran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Peradaban barat sekuler benar-benar sumber petaka dan kepedihan dunia juga Indonesia.

Realitas ini menunjukan sungguh salah alamat ketika deklarasi kebangsaan bukan untuk melawan neoliberalisme, akan tetapi melawan gerakan dan paham radikalisme.[1]  Dan paham radikalisme yang dimaksud adalah syariat Islam khususnya tentang khilafah.

Bagaimana tidak, sejarah membuktikan peradaban Islam dalam naungan khilafah benar-benar menjadi penebar rahmat bagi seluruh alam kurang lebih tiga belas abad lamanya. Pembebas bangsa ini dan dunia dari kebodohan, pencerdas akal fikiran dari paham-paham primitif.   Inspirator barat dalam banyak kebaikan termasuk kemajuan riset dan teknologi.

Itu semua karena khilafah syariat Allah swt, kehadirannnya didesain sebagai rahmat bagi seluruh alam.  Hari ini, kunci solusi persoalan Indonesia bahkan dunia adalah kembali pada kehidupan Islam, khilafah Islam.  Lebih dari pada itu khilafah adalah ajaran Islam yang diwajibkan Allah swt kepada kita semua.

Berdasarkan semua itu, semestinya deklarasi perguruan tinggi seluruh Indonesia adalah berkomitmen untuk melawan neokolonialisme, neoimperialisme, neoliberalisme dan keseluruhan sistem kehidupan sekuler kufur dan peradaban kufur barat yang usang dan batil.  Di samping menegaskan komitmen sebagai pilar peradaban Islam.  Sehingga kemajuan sain dan teknologi sesungguhnya dapat diraih.  Manfaatnya bagi peningkatan kesejahteraan setiap insan dan kemandirian negarapun jadi kenyataan.  Allahu A’lam.

(Penulis: Dr.  Rini Syafri, Pemerhati Kebijakan Publik)

[1] .  https://www.ristekdikti.go.id/presiden-jokowi-apresiasi-komitmen-perguruan-tinggi-lawan-radikalisme-2/.

Your Thoughts